Hal Baru - Ketika Menjadi Seorang Istri

19.04 Anis lotus 4 Comments

Hal Baru - Ketika Menjadi Seorang Istri (Dokumen Pribadi)

Ehem... Ehem... Setelah sekian lama tidak menulis, sekali menulis judulnya bikin orang pengen banting roti (he?). Istri? Kamu udah nikah? Kapan? Kok tiba-tiba? Sama siapa? Kok nggak ngundang-ngundang? Kamu udah berani nikah? Kamu beneran menikah? Kamu.... (ah udah lah)

Hmmm... Maafkan saya teman-teman, tidak ada maksud untuk melupakan kalian yang tak saya undang. Ini karena keterbatasan waktu dan tenaga yang saya punya, jadi tidak mampu menjangkau kalian semua yang sebenarnya selalu ada di dalam hati dan pastinya ada di dalam list perundang-undangan (alesan klasik yang sedang diusahakan menjadi manis).

Oke baiklah, sejak tanggal 14 April 2017 lalu, saya resmi menjadi istri dari seorang Om-Om, eh, istri dari seorang lelaki, sebut saja si Om. Kalau diwawancara sampai mendalam, dimana, kapan, dan bagaimana saya bertemu dengan laki-laki yang satu ini? Biar ringkes saya jawab "Nemu di jalan terus saya bawa pulang" udah gitu aja.

Judul tulisan ini adalah "Hal Baru - Ketika Menjadi Seorang Istri". Maksudnya saya mau berbagi pengalaman sebagai seorang newbie di dunia per-istri-an. Bisa dibayangkan, saya yang pecicilan, kelihatan engga dewasa sama sekali, bahkan sering dikira anak sekolahan, tiba-tiba menjadi seorang istri? 

Yang pertama kali saya pikirkan ketika menyandang gelar ini adalah:
"Apakah saya akan menjadi seorang ibu-ibu?"

*Tolong jangan bilang ini pertanyaan bodoh, meski memang kenyataannya begitu.

Sampai saat ini saya masih berproses menuju emak-emak sejati. Sikap dan tingkahlaku saya masih begini-begini saja. Tetap pecicilan dan tetap dibully layaknya anak SMP (sama suami). Tapi saya menyadari, bahwa sebagai seorang istri, saya memiliki tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan. 

Well, ini adalah beberapa hal-hal baru yang saya alami selama menjadi newbie di dunia per-istri-an:

Selalu dihinggapi pertanyaan "Masak apa ya hari ini?"

Mau nggak mau, urusan masak memasak ini memang menyita waktu dan pikiran lebih dominan dibanding pekerjaan lainnya. Setiap pulang ke rumah yang dipikirin selalu "Masak apa ya hari ini?"

Tenyata menyusun menu sehari-hari itu tidak segampang yang saya pikirkan. Butuh perhitungan yang  cukup rumit meski nggak serumit hubungan tanpa status. Ketika kita punya ide menu masakan, otomatis mikirnya "suami suka engga ya?"  semua muaranya ke suami. Terutama masalah mensinkronkan uang belanja dengan menu yang akan disajikan. Jadi nggak heran kalau ibu-ibu rela mengejar barang yang harganya selisih Rp 500,- doang. haha

Gila perabotan rumah tangga.

Kalau sudah melihat perabotan rumah tangga itu rasanya kinclong banget di mata, kalau engga ditahan-tahan bisa kalap. Barang pecah belah, peralatan dapur, home decore, toples dan lain-lain seperti melambai-lambai minta dibeli. Padahal sebelum menikah, kalau jalan-jalan pasti tujuan utamanya makanan, baju atau buku. Setelah menjadi seorang istri, semua terlihat berbeda.

Suka Bersih-Bersih

Waktu masih sendiri, meski di kasur ada tumpukan cucian, buku atau peralatan lainnya, saya bisa banget tidur pules. Waktu di rumah orang tua juga fine-fine aja rumahnya kotor. Kalau ibu ngomel baru deh dibersihin. Setelah menikah, entah mengapa saya jadi risih kalau rumah berantakan. Pengennya bersihin rumah terus. Maunya rumah terlihat rapi sepanjang hari. Mungkin naluri emak-emak saya mulai terbangun.

Lebih sayang cucian dan setrikaan daripada suami, buktinya dipikirin terus.

Kalau yang ini, yakin semua ibu-ibu juga merasakan. Males banget kan kalau lihat cucian numpuk? Setelah  kering pun masih ada proses nyetrika. Mencuci dan menyetrika ini bagaikan pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Tapi InsyaAllah, dengan membayangkan suami pakai baju bersih dan rapi jadi semangat ya ibu-ibu mencuci dan nyetrikanya? Haha

Memperkenalkan "make up" pada suami.

Suami saya termasuk orang yang engga paham sama sekali tentang make up. Setiap mau pergi, sambil nungguin saya dandan, suami mesti nanya.
"Apa bedanya bedak bayi sama bedak yang kamu pakai? Perasaan sama aja... Kenapa harus bedak itu?" 
Hmmmm.... Ini nih, baru saya tau setelah menikah. Dosen saya dulu pernah bilang, "Laki-laki mana tau bedanya bedak mahal sama bedak yang murah". Maka dari itu, di sini sebagai pemula saya masih berusaha menjelaskan pada suami perbedaan bedak bayi, herosin, caladin dan bedak ketek dengan bedak wanita dewasa seperti revlon, maybelline, wardah, dan lain-lain.
"Kenapa harus pake lipstick, kenapa engga pake kerayon aja? Sama-sama berwarna" 
Kalau ini suami udah kelihatan engga beresnya. Helloooww, masa lipstick disamain sama krayon? Bisa dibayangkan betapa saya harus berusaha keras menjelaskan dengan seksama (meski akhirnya tetep engga ngerti bedanya dimana).
"Kenapa kudu pake blash on? Itu kenapa bulu matanya kudu dijepit-jepit gitu?" *just silent and keep doin make up* 

Susahnya mencari panggilan sayang.

Berhubung kita pacarannya setelah menikah, mencari panggilan sayang itu hal yang agak membingungkan buat kita.
"enaknya aku panggil kamu apa ya?"
Sayang udah biasa, Ay juga udah banyak yang pakai. Honey, kok kayanya terlalu lebay. Chayankz apalagi, alay banget (tapi pada kenyataannya dia pake juga). Karena nggak menemukan panggilan yang pas, dan sudah lelah nyarinya, akhirnya suami panggil saya apa coba? Kadang "Tante", kadang "Ndut", "Mbrot", "Nduk", "Nak".... Makin sembarangan. Akhirnya saya juga ikutan sembarangan, kadang panggil "Om", "Pak" atau "Mamas" sekenanya deh pokonya.
               
Mungkin ada dari teman-teman yang mau membantu kami, membereskan kekacauan nama panggilan ini?? Haha
               
Tujuan pulang kampung bertambah

Biasanya setiap bulan pulangnya ke rumah orang tua saja, sekarang sudah ada mertua ya otomatis pulang kampung ke rumah mertua juga. Tak bisa dipungkiri, orang tua merasa kehilangan ketika kita jadi jarang pulang ke rumah. Tapi apa daya, tenaga dan waktu yang kita punya terbatas. Meski begitu kita selalu berusaha yang terbaik untuk membahagiakan orang tua. :)
               
Senangnya diberi nafkah

Saya tidak menyangka, kalau diberi nafkah sama suami itu rasanya bisa sesenang ini. Pasti ada yang nyeletuk "apalagi kalau jumlahnya banyak". Hahaha. Kalau jumlahnya banyak ya Alhamdulillah, siapa yang nggak suka dikasih duit banyak? Tapi ini bukan soal jumlah, engga tau kenapa rasanya seneng aja gitu dikasih duit sama suami. Terimakasih suami sudah bekerja keras, semoga barokah ya lelahmu. :*

Sepertinya cukup itu pengalaman yang saya alami selama menjadi newbie di dunia per-istri-an. Namanya masih newbie tentu masih perlu banyak belajar. Setelah menjadi istri profesional pun akan ada lebih banyak tantangan yang harus saya hadapi nantinya.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita untuk bisa menjadi istri yang sholehah, InsyaAllah, Amiin.Semangaaat ya untuk kita para istrii! :D
 

4 komentar:

  1. Saya baru bisa pakai make up setelah anak pertama berusia 4 tahun hihihi. Itupun cuma bedak dan lipstick (iya, buat saya itu udah make up hehehe :D ).
    Trus sampai skrng gk punya panggilan sayang, manggil ayah bund akrn nyontohin anak :D

    Btw selamat ya buat pernikahannya, moga bahagia selalu bersama keluarga kecilnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb, saya jg make up nya engga tebel2 kok, sekedarnya aja, tipis2...

      Gitu ya mb, kayanya panggilan sayang saya bakal tetep sembarangan sampe punya anak.. haha

      Terimakasih mb... Amiin yarobal alamiin :)

      Hapus
  2. Alhamdulillah selamat ya pengantin baru hihi setuju deh apalagi dikasih nafkah seneng banget, uang utuh di tabungan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. bener mb, uang utuh buat ditabung. Makasii kunjungannya :)

      Hapus