Proses Ta'aruf: Tahap-Tahap Ta'aruf Online

11.40 Anis lotus 6 Comments

Sumber gambar: Profhariz


Kalau dirunut lagi dari awal, berikut tahap-tahap ta'aruf online di Rumah Ta'aruf Taman Surga:

Tahap Pertama: Pendaftaran

Syarat dan ketentuan bisa dilihat langsung di blog RumahTa'aruf Taman Surga, atau langsung download aplikasinya di playstore Jemput Jodoh. Bila kita sudah memenuhi syarat, maka mendaftarlah. Isi biodata diri sesuai format dari mediator. 

Tahap Kedua: Tukar Menukar Biodata

Melalui grup whatsapp dan telegram, kita diberikan info tentang biodata ikhwan yang juga mendaftar di RTTS. Sebagai wanita, kita harusnya tidak diam saja menunggu. Bila ada ikhwan yang dirasa cocok dengan kriteria, kita bisa langsung menawarkan CV  pada mediator untuk disampaikan pada ikhwan tersebut. Tidak usah malu, ingat cerita khadijah yang melamar Rasulullah. Toh, apa yang kita lakukan tidak menyalahi syari'at Islam. Insya Allah, cara yang kita lakukan adalah cara yang terhormat.
Dalam proses ini dibutuhkan kesabaran, karena mencari pasangan hidup itu tidak bisa asal dan terburu-buru. Mungkin ada orang yang beruntung, sekali berkenalan langsung cocok dan lanjut ke proses berikutnya. Tapi beberapa orang butuh waktu cukup lama untuk menemukan yang klik di hati. Termasuk saya, perlu waktu tiga bulan sejak mendaftar sampai akhirnya dipertemukan dengan yang klik.

Tahap Ketiga: Penjajakan online

Bila pada tahap tukar menukar biodata ikhwan dan akhwat sama-sama setuju untuk berkenalan lebih jauh, mediator akan membuatkan grup whatsapp khusus yang beranggotakan akhwat, ikhwan, ustad Awan Abdullah (Founder RTTS) dan mas admin. Ada beberapa peraturan di grup ini, diantaranya adalah dilarang japri-japrian dan tidak boleh berbicara diluar konteks tujuan perkenalan atau hal tidak penting lainnya.

Grup ini merupakan ruang untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang ikhwan. Kita bisa korek-korek dengan mengajukan berbagai pertanyaan atau mengajukan contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. 

Ini adalah sebagian pertanyaan yang saya ajukan kepada si ikhwan: 

  1. Apa visi dan misi anda untuk menikah? 
  2. Apa rencana anda ke depannya setelah menikah?
  3. Bagaimana anda mengatur keuangan dan biasanya untuk apa saja gaji bulanan dihabiskan?
  4. Apa pendapat anda tentang pendidikan? Apakah anda masih ingin lanjut kuliah atau tidak?
  5. Apa rencana anda ke depan setelah menikah, berkaitan dengan orang tua, baik orang tua sendiri maupun orang tua istri?
  6. Apakah anda menganut aliran atau golongan tertentu?
  7. Apa cita-cita anda?

Itu baru sebagian pertanyaan awal yang saya ajukan. Selanjutnya pertanyaan lain mengalir lebih banyak dan lebih dalam. Dalam proses ini kita harus benar-benar jujur, karena kita mencari teman hidup bukan hanya untuk sebulan dua bulan ke depan, tapi untuk selamanya. Bila  belum apa-apa sudah diawali dengan kebohongan, bagaimana kalau sudah berumah tangga nantinya?

Tahap Keempat: Pertemuan offline

Pertemuan offline akan terjadi apabila ikhwan dan akhwat sama-sama menyetujui untuk melanjutkan proses ta'aruf. Dalam pertemuan ini, masing-masing dari ikhwan dan akhwat harus membawa teman atau seseorang yang bisa bertindak menjadi mediator. Bila kita ada di sekitaran Jogja akan ditemani ustad Awan. Berhubung jauh di Surabaya-Malang, maka kita membawa pendamping sendiri-sendiri. Intinya tidak boleh berduaan.

Kesempatan bertemu ini digunakan sebaik-baiknya untuk melihat langsung, berbicara langsung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan saat online. Mau mengulang pertanyaan sebelumnya juga tidak apa-apa, untuk lebih memastikan dan meyakinkan diri.

Setelah proses ini, disarankan untuk yang belum sholat istiharoh, laksanakanlah sholat istoharoh. Mohon petunjuk pada Allah. Minta waktu pada ikhwan untuk menunggu paling lama 1 minggu. Jangan lama-lama, karena itu bikin galau. Haha
Terus komunikasikan dengan orang tua. Dalam hal ini, saya dan orang tua bersama-sama melaksanakan sholat istiharoh. Hasil dari sholat istiharoh tidak harus berupa mimpi, tapi berupa keyakinan yang kuat tanpa keraguan sedikit pun. Alhamdulillah, saya dan orang tua memiliki keyakinan yang sama untuk melanjutkan proses ini.


Tahap kelima: Perkenalan Keluarga

Setelah sama-sama setuju untuk lanjut, tahap selanjutnya adalah perkenalan keluarga. Proses yang saya alami di sini adalah, si ikhwan berkunjung ke rumah saya untuk langsung bertemu dengan orang tua. Dia datang sendiri tanpa ditemani keluarga. Isi pembicaraan juga masih santai, tidak langsung to the point ingin melamar. Mungkin proses ini bisa berbeda dengan pengalaman ta'aruf orang lain. Beberapa pengalaman yang saya baca, ada ikhwan yang langsung datang melamar.

Setelah si ikhwan mengenal keluarga akhwat, keluarga akhwat juga mengenal si calon, selanjutnya akhwat juga perlu mengenal keluarga si ikhwan. Proses ini juga bisa berbeda ya dengan yang dialami oleh orang lain. Mungkin ada akhwat yang sudah pasrah dan percaya pada gambaran yang diberikan ikhwan kepadanya. Awalnya saya juga merasa tidak perlu berkunjung ke sana, tapi tergelitik dengan pertanyaan si abang, katanya "Apa mbaknya nggak mau tau keluarga saya seperti apa? Keadaan keluarga saya berbeda lho dengan keluarga mbak anis." dari sini saya mikir, iya juga ya. Takutnya di akhir nanti ada hal yang ternyata mengganjal di hati. Karena saya tidak mau menyesal di kemudian hari, akhirnya saya memutuskan untuk ke rumahnya dengan ditemani oleh seorang teman.

Jujur saja, ada perasaan malu saat itu. Tapi mau bagaimana lagi, menikah itu bukan hanya tentang diri kita dan calon suami, tapi juga tentang dua keluarga yang akan menjadi satu.

Tahap keenam: Khitbah

Proses selanjutnya adalah khitbah. Ikhwan datang ke rumah Akhwat beserta  keluarga dengan tujuan melamar. Kalau di Jawa, tradisinya adalah keluarga ikhwan berkunjung ke rumah akhwat untuk melamar, kemudian selanjutnya keluarga akhwat yang berkunjung ke rumah ikhwan untuk memberikan jawaban atas lamaran tersebut.

Pada saat kunjungan keluarga akhwat ke keluarga ikhwan inilah akan ada diskusi keluarga untuk menentukan tanggal pernikahan.

Tahap Ketujuh: Menikah


"Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yaa Siin 36:36)

Berkat ridho dan rahmat Allah SWT lah, kita bisa sampai pada tahap ini. Saya yakin, Allah akan melancarkan proses ini apa bila memang dia yang terbaik untuk kita, namun bila memang bukan dia orangnya, pasti akan ada saja hal yang membuat proses ini tidak berlanjut. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bersabarlah dalam proses menemukan jodoh, karena jodoh itu rahasia Allah. Jodoh seperti rejeki yang tidak disangka-sangka. Ia akan datang tepat pada waktunya, jadi janganlah berputus asa dengan rahmat Allah. Pasti dikabulkan kok doanya, pasti dipertemukan kok sama jodohnya. Perbanyaklah instropeksi diri. Selamat buat kamu yang sudah bersabar. :)

Semoga tulisan ini bermanfaat ya... 

6 komentar:

  1. Mpunya blog taaruf juga taa ??

    congrats :)

    salamkenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... bukan, cuma sharing aja. Salam kenal juga :D

      Hapus
    2. loh, tapi kayaknya ini kisah sampean mbak, :D

      ternyata bukan :D

      Hapus
    3. Oalah ga mudeng saya baca komen mba.. haha. Iya saya ta'aruuf. Wkwk

      Hapus
  2. Wah, berarti nemu jodoh di aplikasi ini ya Mbak? Seru... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyapp.. tapi sy bukan di aplikasinya, tapi grup yg sudah dibikin sama pihak RTTS :)

      Hapus