Akhwat, Jemputlah Jodohmu!

08.11 Anis Lotus 9 Comments

Pagi ini, setelah mengerjakan tugas kantornya, pak suami menghampiri saya sambil senyum-senyum mencurigakan. Waktu ditanya, katanya dia nggak sengaja menemukan proposal saya waktu kita ta'aruf. Dia bilang, "Proposalmu penuh kepalsuan" Hahahahahaha (menyebalkan).

Sebenarnya bukan penuh kepalsuan, proposal itu jujur adanya, cuma kan banyak hal yang tidak bisa di ungkapkan hanya dalam satu proposal. Apalagi sudah tinggal bersama, terungkaplah semua hal-hal yang tidak bisa diungkapkan. Mungkin Pak Suami tidak bisa membaca bakal-bakal sifat bodoh dan konyol yang saya miliki, tapi saya bisa. Sejak pertemuan pertama saya sudah bisa memprediksi orang seperti apa dia. Hahaha

Ingat proses ta'aruf, saya jadi ingat lagi masa-masa galau menantikan jodoh. Setiap sholat lima waktu, sholat sunnah atau apa pun, doa yang tidak pernah tertinggal adalah "Ya Allah, pertemukan aku dengan jodoh terbaik dari sisimu, dengan cara yang Engkau ridhai". Sampai sekarang pun, kadang saya suka otomatis berdoa seperti itu saking melekatnya di lidah. Setelah inget kalau sudah nikah, langsung deh diralat doanya. Haha.

Buat teman-teman yang belum dipertemukan dengan jodoh, nggak apa-apa menggalau, tapi jangan sampai putus asa. Jodoh kita sudah ada, tinggal menunggu dipertemukan diwaktu yang tepat. Waktu yang tepat itu kapan? Wallahua'lam, hanya Allah SWT yang tau. 

Sambil menunggu apakah kita hanya diam saja? No, jodoh itu ibarat rizki. Dia sudah ada, dia akan datang di waktu yang tepat, tapi dia juga perlu dijemput. Untuk para akhwat mungkin bingung, bagaimana caranya menjemput jodoh? Saya dulu juga begitu, bingung mau ngapain sebagai akhwat. Masa iya, saya ngejar-ngejar cowo yang kelihatannya ada gambaran masa depan saya di wajahnya #aish . Kan nggak mungkin? Well, jadi setelah belajar sana sini, cari info sana sini, apa yang harus  saya lakukan sebagai jomblowati yang sudah pengen ketemu jodoh tanpa harus pacaran, akhirnya sekarang saya bisa share pengalaman saya berikut ini:

1. Memperbaiki Diri

Salah satu usaha kita dalam menjemput jodoh adalah memperbaiki diri. Kalau kita menginginkan jodoh yang baik, tentu kita pun harus memantaskan diri. Misalkan, meningkatkan ibadah untuk dijadikan kebiasaan sehari-hari, agar nanti kehidupan rumah tangga adem, ayem, aman dan tenterem. Merawat diri, agar nanti suami betah lama-lama memandang wajah kita. Belajar masak, agar nanti suami dan anak-anak terjamin asupan gizinya. Banyak membaca buku tentang pernikahan atau mengikuti kuliah/ seminar pra nikah, untuk mempersiapkan diri memasuki bahtera rumah tangga.

Alhamdulillah saya telah melalui semua usaha itu (ternyata suami pun begitu). Namun, setelah melakukan usaha memperbaiki diri, saya tidak serta-merta didekatkan dengan jodoh. Beberapa kali dipertemukan dengan seseorang, tapi tidak pernah berujung seperti yang diharapkan. Sampai-sampai saya bertanya dalam hati "Apa yang salah?" bahkan saya merasa minder sama diri sendiri "Apa saya segitu tidak pantasnya bertemu dengan jodoh yang baik? Apa lagi yang harus saya lakukan?".

Tapi saya terus berusaha dan percaya bahwa apa yang kita lakukan untuk kebaikan itu tidak sia-sia. Allah  mendengar doa kita dan melihat usaha kita.

2. Membuka Diri

Terkadang, kita berpatokan pada sesosok orang di masa lalu yang sudah perfect banget di mata kita. Akhirnya secara tidak sadar, kita mencari orang yang seperti dia. Ini yang namanya nggak move on, yang secara otomatis membuat hati kita tertutup buat orang selain dia.

Cobalah untuk berpikir rasional. Kita uraikan lagi, kriteria seperti apa sih yang kita inginkan? Imam seperti apa yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan di dunia ini? Apa sih tujuan kita membangun rumah tangga? Tak perlu takut melupakan, masih banyak lelaki yang pantas untuk kamu impikan di luar sana saudariku. Kita harus percaya bahwa pasti ada suatu alasan mengapa kita dipertemukan dengan orang-orang sebelumnya.

Cobalah membuka diri dengan memperbaharui referensi kita tentang lawan jenis. Luaskan pergaulan, agar kita bisa bertemu dengan berbagai macam karakter orang. Dari situ kita bisa belajar, tidak melulu terpaku pada masa lalu. Meluaskan pergaulan sama dengan memberi jalan pada jodoh untuk menemukan jalan menuju kita.

Memperluas pergaulan bisa dengan berbagai cara, misalkan ikut pengajian rutin, aktif dalam organisasi keagamaan dan sosial, dan lain sebagainya. Datangi tempat dimana kita akan menemukan jodoh terbaik.

Minta diperkenalkan dengan ikhwan yang juga jomblo dan sedang mencari jodoh, mengajukan prosopsal ta'aruf pada lembaga terpercaya juga termasuk dalam usaha membuka diri.

Baca Juga : Proses ta'aruf: Sebuah Pilihan

3. Jangan Persulit Kedatangannya

Manusia seringkali menginginkan sesuatu yang sempurna, padahal nggak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. Kita boleh memiliki kriteria untuk pasangan hidup, karena pernikahan itu untuk selamanya, bukan seperti magang kerja yang cuma untuk sebulan atau dua bulan saja. Tapi sekali lagi, cobalah untuk rasional dalam menentukan kriteria tersebut. Jangan mempersulit dia dan diri kita sendiri.

Islam sudah memberikan petunjuk pada kita tentang memilih jodoh lho. Ini ada beberapa ayat dan hadisnya:

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi )

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

Bertaqwa, Berakhlak Baik dan Paham Agama adalah kriteria utama saya dalam memilih jodoh. Hadist HR Tirmidzi dan HR. Bukhari-Muslim, serta surah Al Hujurat adalah dasar saya meletakkan kriteria ini sebagai kriteria utama. Saya yakin, orang yang bertaqwa, berakhlak baik dan paham agama akan mengerti tentang hak dan kewajibannya sebagai suami, mengerti bagaimana bersikap dan tau bagaimana caranya membangun keluarga yang dekat dengan Allah SWT.

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Mungkin hadist itu untuk para ikhwan, tapi kita juga bisa menjadikannya sebagai patokan. Dalam hadist ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita dianjurkan untuk Memilih Jodoh yang Setara (sekufu) baik dalam hal harta, agama, kedudukan, dan status sosial. Kesetaraan ini merupakan salah satu faktor keharmonisan rumah tangga.

Saya dulu tidak memikirkan kesetaraan ini secara mendalam, hanya saja secara otomatis saya menetapkan kriteria pasangan yang memiliki banyak kesetaraan dengan saya, misalkan dari segi pendidikan, sifat, dan latar belakang keluarga. Saat membaca proposal suami saya, saya menemukan banyak kesetaraan, itulah sebabnya saya mau melanjutkan proses ta'aruf dengannya.

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21) 

Surah Ar Ruum ini menjelaskan tentang Kriteria Pasangan dari Segi Fisik. Tidak bisa dipungkiri ya, semua orang pasti akan menjadikan kriteria fisik sebagai salah satu faktor penting dalam memilih pasangan. 

Kalau saya dulu inginnya yang seperti opa-opa korea gitu (haha), yang putih kulitnya dan sipit matanya. Kenyataannya saya mendapatkan jodoh bermata sipit tapi berkulit gelap (jauh banget dari ke korea-koreaan. Haha). Nah, siapa sangka ternyata orang berkulit gelaplah yang membuat hati saya menjadi tentram dan merasa klik di hati. Jadi, yang namanya cantik atau ganteng itu relatif. Meskipun saya menetapkan kriteria fisik sedemikian rupa, tapi saya tetap fleksible. Nggak mutlak harus yang begitu, yang penting bisa menentramkan hati. 

Jangan sampai masalah kriteria fisik ini menjadi penghalang kamu untuk bertemu dengan jodoh terbaik ya girls!

“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim) 

Hadist di atas menceritakan tentang Rasulullah SAW yang tidak menyarankan Fatimah untuk menerima lamaran Mu'awiyah karena kemiskinannya. Pelajaran yang dapat kita petik adalah, Pilihlah Pasangan Yang Memiliki Kemampuan Untuk Menafkahi Kita

Saya tidak membicarakan tentang punya banyak harta atau tidak, tapi ini tentang kemampuan dan kemauan untuk menafkahi. Meski banyak harta kalau tidak ada rasa tanggungjawab untuk menafkahi kan sama saja? Berbeda dengan orang yang memilki kemampuan dan kemauan untuk menafkahi, ia akan terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Ini juga salah satau  alasan saya memilih laki-laki yang paham agama. Orang yang paham agama sudah pasti akan tahu kewajibannya sebagai suami, ia tidak akan menyia-nyiakan keluarganya karena ia tau akan dosa besar yang akan diterima. Saya tidak khawatir kalau saat ini dia bukan orang yang kaya atau berkecukupan, itu semua karena janji Allah dalam surah An Nur berikut ini.

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32) 

Dari penjelasan hadist dan ayat Al Quran tersebut dapat kita simpulkan bahwa paling tidak ada 4 kriteria pokok dalam memilih jodoh yang baik, terutama untuk seorang akhwat, yaitu:

1. Bertaqwa, berakhlak  baik dan paham agama
2. Secara fisik menenteramkan hati
3. Sekufu / Setara, dan
4. Memiliki kemampuan untuk menafkahi

diluar kriteria tersebut, janganlah terlalu dipermasalahkan. Jangan menghalangi jodohmu dengan kriteria-kriteria yang sulit. Bila memang belum seperti yang kita inginkan, paling tidak kita bisa melihat potensi dalam dirinya untuk sama-sama belajar menjadi lebih baik.

Kenali lah dia dan keluarganya dengan baik, cari informasi sebanyak-banyaknya sampai hati kita merasa benar-benar yakin. Jangan lupa sholat istiharoh, minta petunjuk pada Sang Maha Pemilik Cinta.

Itulah usaha-usaha yang bisa kita lakukan sebagai akhwat. Jangan putus asa, teruslah berusaha yang terbaik. Jodoh kita sudah ada, tinggal dijemput. Semoga artikel ini bermanfaat ya buat kalian yang dalam penantian. :)

9 komentar:

  1. ayo ayo semangat bagi yang masih single. perempuan baik untuk lakilaki baik ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba... semangat! pesti dipertemukan dengan yang terbaik :)

      Hapus
  2. Alhamdulillah dapat pencerahan, Terima kasih pencerahannya mbak

    BalasHapus
  3. Wah keren nis share-nya..... btw selamat ya udah dapat jodohnya hehe..semoga berkah dunia akhirat.... btw masih rajut ga nis ? klo masih mau pesan euy buat kupluk kepalanya kamen rider (tinggi figurenya sekitar 12 - 15 cm)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hola mas dani.... Amin yarobalalamiin. Lagi tutup order dulu mas, udah penuh sampe desember soalnya. Januari persiapan melahirkan soalnya :)

      Hapus
  4. oo gitu.... wah udah mau melahirkan ya...semoga lancar dan sehat semuanya...

    BalasHapus
  5. Hmmm aku penasaran bikin proposal kalo taaruf itu seperti apa ya mba.. Maaf, soalnya dulu sebelum nikah, aku ga melalui proses taaruf ini..

    Alu setuju kalo mncari jodoh itu hrs yg setara.. At least setara pendidikannya.. Krn ini bikin komunikasi jd nyambung sih :) . Buatku, kunci keharmonisan rumahtangga ya lwt komunikasi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Proposal ta'aruf itu hampir mirip CV kalo mau ngelamar kerja mb, tapi ditambah keterangan sifat2 pribadi yang lebih detail, dan pertanyaan2 seputar pernikahan seperti tipe pasangan yang diinginkan,motivasi menikah, harapan setelah menikah, persetujuan orang tua, dan lain2. :D

      Iya mb, kalau setara lebih memungkinkan bikin komunikasi jadi nyambung. Seperti saya dan suami, karena kira hidup di masa2 yang sama, jadi trend2 waktu sekolah dan kuliah dulu bisa jadi obrolan seru :D

      Hapus