Sudah Saatnya Bertindak, Lawan Cyberbullying!

08.23 Anis lotus 2 Comments

klik image source
Klik Sumber Gambar

Masyarakat Indonesia terkenal dengan budayanya yang ramah dan santun. Sayangnya, saat ini budaya itu sepertinya semakin terkikis seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Kecepatan internet dan berbagai aplikasi media sosial seperti instagram, twitter, facebook, youtube, dan blog telah membawa dampak positif sekaligus menimbulkan dampak negatif.

Salah satu permasalahan dunia maya yang sedang naik daun adalah Cyberbullying. Cyberbullying dalam bahasa indonesia adalah intimidasi di dunia maya. Menurut para ahli, Cyberbullying adalah kekerasan yang di lakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan bantuan alat elektronik yang di lakukan secara berulang kali atau terus menerus pada seseorang yang sulit membela dirinya (Smith dkk, 2008). Cyberbullying terjadi pada anak usia di bawah 18 tahun. Bila kasus intimidasi atau penghinaan di internet melibatkan orang di atas usia 18 tahun maka disebut dengan cyber crime, hate speech, atau cyber stalking.

Bentuk cyberbullying beragam, mulai dari tulisan, gambar, video, atau membuat situs yang bertujuan menjatuhkan, mengancam, atau mempermalukan korban. Motif pelaku cyber bullying sangat kompleks, mulai dari iseng, terlalu banyak waktu luang, dendam, frustasi, atau karena faktor lingkungan.

Prosentase kasus Cyberbullying Indonesia Terbesar di Dunia
klik image source
Klik Sumber Gambar

Data KPAI sepanjang tahun 2016 menunjukkan terdapat lebih 3500 kasus bullying dan sebesar 14% adalah kasus cyberbullying. Pada tahun 2013 Akamai* mengeluarkan laporan bahwa Indonesia memiliki prosentase kasus cyberbullying terbesar di dunia yaitu sebesar 34% menyusul negara cina dengan prosentase 33%. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, mengingat dampak cyberbullying tidak bisa dipandang sebelah mata.

*Akamia adalah sebuah perusahaan multinasional yang menghasilkan berbagai macam produk teknologi informasi.

Cyberbullying Bisa Berujung Pada Kematian

Dalam kajian meta-analisis yang dilakukan oleh Bottino, Regina, dan Correia (2015) ditemukan bahwa terdapat hubungan antara cyberbullying dengan stres emosional, kecemasan sosial, penggunaan obat terlarang, gejala depresi, serta ide dan usaha untuk bunuh diri. Beberapa kasus cyberbullying telah menyebabkan kematian di berbagai negara. Seperti yang dialami oleh seorang remaja berumur 15 tahun dari Kanada bernama Amanda Todd.


Amanda di-bully setelah melakukan suatu kesalahan saat melakukan video online dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya di sebuah situs. Pria tak dikenal itu meminta Amanda untuk menunjukan bagian dadanya tanpa penutup. Karena terlena dengan pujian akhirnya gadis remaja itu melakukannya. Ia menyadari kesalahannya tersebut dan menganggap itu hanya kesalahan kecil yang akan segera terlupakan. 

Namun ternyata pria tak dikenal tersebut adalah seorang "cappers" atau pembuat capture video para remaja seperti Amanda. Pria tersebut meminta Amanda untuk menuruti kemauannya demi memuaskan nafsu seksualnya dengan mengancam akan menyebarkan foto Amanda pada teman sekolah dan keluarganya. Selang beberapa lama, foto Amanda tersebut pun menyebar. Dampaknya, selama 3 tahun Amanda menerima ancaman dan di-bully oleh teman temannya, selama itu pula dia telah berpindah tempat tinggal dan sekolah. Hingga akhirnya gadis remaja itu tak kuat menahan kesedihan. Amanda memutuskan untuk membuat video tentang cerita sedihnya selama 3 tahun sebelum akhirnya ia meninggal dunia dengan cara gantung diri di rumahnya pada tahun 2012. 

Kasus cyberbullying di Indonesia sempat viral di tahun 2016 adalah tersebarnya video anak remaja bernama Sonya Depari. Siswi SMA Metodhits 1 Medan ini dibully oleh warga internet karena mengaku dirinya anak jendral saat dia dan teman-temannya terkena razia polisi. Sebagai warga yang berbudaya seharusnya kita bisa dengan bijak menanggapi video tersebut, tidak perlu mem-bully. Untung saja kasus cyberbullying yang dialami gadis ini tidak sampai berujung pada keingingan untuk bunuh diri.




Gambar di atas saya screencaptures dari akun instagram bernama @dijahyellow. Dijah menjadi viral karena unggahan video dan foto yang menunjukkan kepercayaan diri tingkat tinggi. Dalam setiap foto Dijah, hampir semua berkomentar jahat terutama soal penampilannya. Pantaskah kita berbicara sekasar dan sejahat itu terhadap manusia lainnya? Sekali lagi, komentar seperti itu sama sekali tidak menunjukkan masyarakat Indonesia yang berbudaya.

Amanda, hanyalah salah satu kasus cyberbullying yang berujung kematian. Masih banyak Amanda-Amanda lain di luar sana. Sonya Depari dan Dijah juga merupakan korban yang mungkin saja menjadi Amanda berikutnya.

Jangan Diam Saja, Lawan Cyberbullying

Dengan melihat dampak dari cyberbullying yang tidak bisa dianggap remeh, akankah kita diam saja dan tidak bertindak apa pun? Sebagai warga Indonesia yang berbudaya, sudah seharusnya kita bertindak. Salah satunya dengan cara bijak dalam bermedia sosial.

Menulis dan Berkomentar yang baik. Media sosial atau dunia maya tidak berbeda dengan dunia nyata. Bayangkan kalau ada seseorang berbicara negatif di hadapan kalian, "kamu bodoh" "kamu jelek", "mati aja lu", dan lain sebagainya. Bagaimana perasaanmu? Perasaan itu juga yang dirasakan oleh seseorang yang di-bully di dunia maya. 

Maka dari itu, pikirlah dulu sebelum menulis atau berkomentar. Sebarkan konten positif yang berguna dan bermanfaat. Bila ada konten yang dirasa tidak sesuai, berkomentarlah dengan kritikan yang membangun, bukannya menghina atau melecehkan. 

Bila kita mendapatkan komentar negatif dari seseorang, maka jangan ditanggapi. Hapus saja komentarnya, atau kita bisa mengatur agar akun tersebut tidak lagi berkomentar di media sosial kita.

Laporkan cyberbullying pada pihak berwajib. Yup, jangan takut untuk melaporkan tidak kejahatan di dunia maya terutama cyberbullying. Kita bisa screencapture percakapan yang menunjukkan tanda-tanda menghina atau mengintimidasi sebagai barang bukti. 

Pelaku cyberbullying bisa terjerat UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tahun 2016 pasal 29. Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi (termasuk cyberbullying) bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).


Jangan takut melapor, karena ada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang akan menjamin keselamatan kita. Kebanyakan korban cyberbullying yang berakhir dengan bunuh diri karena tidak adanya laporan dari masyarakat. Dengan melapor, kita berkemungkinan besar untuk menyelamatkan satu nyawa dari kekejaman cyberbullying. Mari menjadi warga Indonesia yang berbudaya baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Perangi Cyberbullying!



2 komentar:

  1. Ternyata sampe segitunya ya si Amanda,,,, ngeri banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Cyberbullying itu parah banget :(

      Hapus