Hero Zaman Now: Emak dan Televisi Kecil Tak Berwarna

14.20 Anis Lotus 31 Comments

Sumber gambar (https://myimage.id)
Saya ingin menceritakan seorang perempuan berusia hampir 60 tahun yang biasa saya panggil Emak. Beliau adalah tetangga saya, sekaligus orang yang pernah mengasuh saya waktu kecil.

Emak adalah janda beranak empat, suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit liver. Dua dari empat anak Emak sudah menikah dan hidup di bawah garis kemiskinan seperti Emak. Dua anak lainnya bernasib lebih beruntung dari kakak-kakaknya. Mereka sempat mengenyam bangku kuliah meski dengan biaya sendiri.

Anak Emak yang ke-3 bekerja sebagai guru honorer, dari gajinya itu dia membiayai kuliahnya. Anak yang paling bontot saat ini sedang berkuliah di salah satu politeknik negeri dengan beasiswa dari pemerintah. Anak Emak yang terkhir ini memang punya otak encer. Sejak SMP dan SMA dia sering ikut olimpiade, sehingga gurunya dengan suka rela membantunya mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Beruntungnya Emak memiliki anak yang mandiri dan punya semangat tinggi untuk merubah nasib.

Sehari-hari emak memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengembala kambing, menjual bubuk kopi dan sesekali membantu ibu saya melakukan pekerjaan rumah. Sering beliau mengeluh tak punya uang untuk membeli beras. Namun begitu, karena kasih sayang Allah, selalu ada saja rejeki yang beliau dapat baik melalui keluarga saya mau pun melalui orang lain. Emak mengeluh tidak kepada sembarang orang, bisa dibilang hanya pada keluarga saya saja beliau bersikap lebih terbuka.

Meski kehidupannya susah, Emak terlihat tidak pernah berputus asa. Beliau juga tidak pernah terlihat rendah diri di depan orang lain. Asal pekerjaan yang dilakukannya halal, sepertinya beliau akan tetap percaya diri dan tetap menjadi diri sendiri. Kalau saya jadi Emak mungkin tidak akan mampu untuk menjalani kehidupan serba kekurangan seperti itu.

Emak dan Televisi Kecil Tak Berwarna

Ada suatu cerita tentang Emak yang masih membekas di benak saya hingga kini. Kalau ingat cerita itu, saya merasa malu pada diri sendiri. Cerita ini menjadi pengingat bagi saya, bahwa Allah sudah memberikan sebegitu banyak nikmat tapi saya tetap saja kurang bersyukur. 

Peristiwa ini terjadi di bulan Ramadhan tahun 2014. Ceritanya Emak memiliki sebuah televisi (TV) kecil tak berwarna. Meski layarnya kecil dan tak berwarna, emak sangat senang memiliki TV tersebut karena ia tidak perlu lagi pergi ke rumah tetangga untuk sekedar menonton acara sinetron kesayangannya. Apalagi kalau nonton di rumah tetangga tidak bebas, kalau tuan rumah ingin menonton acara TV lain, emak tidak bisa berbuat apa-apa.

Suatu hari, TV tersebut mulai bermasalah. TV Emak tiba-tiba ngadat tak mau menampilkan gambar. Selama beberapa bulan emak sedih karena TV nya rusak, sedang Ia tak memiliki uang untuk memperbaikinya. 

Hingga akhirnya datanglah seorang bapak penjual ikan wader yang biasa berdagang keliling kampung. Ia tak sengaja mengetahui bahwa TV Emak bermasalah. Bapak penjual wader tersebut berniat membeli TV Emak dengan harga Rp. 50.000. Katanya ia kan memperbaikinya biar bisa ditonton anak istrinya di rumah. Emak pun setuju, lebih baik dijual dari pada TV tersebut tak berguna teronggok di rumah. Akhrinya dibawalah TV kesayangan Emak tersebut. Bapak penjual wader berjanji akan membayarnya dalam waktu dekat.

Selama beberapa hari, Bapak penjual wader tersebut tak kunjung keliahatan batang hidungnya. Hingga beberapa  bulan lamanya si penjual wader tersebut tak juga muncul. Emak pun mulai kesal dan kecewa dengan Bapak penjual wader.

Suatu hari, ada tetangga yang menghampiri Emak. Ia mengetahui perihal tentang TV emak dan datang untuk memberi tahu Emak bahwa tukang wader yang membeli TV Emak itu sekarang sedang ada di depan gang. 

Buru-buru Emak pergi ke depan gang untuk memergoki Bapak penjual wader. Benar saja, Bapak penjual wader ada di sana sedang melayani pembeli.

"Pak!" Sapa Emak. Tukang wader tersebut sedikit kaget melihat Emak ada di sana.
"Mana katanya TV saya mau di bayar?" begitu kata Emak.

Tukang wader tersebut akhirnya meminta maaf pada Emak karena selama ini ia sengaja tidak berjualan di perkampungan sekitar rumah Emak. Ia malu karena tidak punya uang untuk membayar.

"Oalah... Ya sudah kalau begitu, ganti saja TV saya dengan dua bungkus ikan wader!" Ujar Emak.

Perlu diketahui, bahwa sebungkus ikan wader itu harganya hanya Rp 5000 perak. Jika dua bungkus berarti hanya Rp 10.000 saja. 

Dengan harga segitu pun Pak penjual wader masih berkata "Waduh, kalau dua bungkus saya bisa rugi..."

Lalu apa kata Emak??? "Ya sudah kalau begitu beri saya satu bungkus..."

And Done! Masalah antara Emak dan Bapak penjual wader selesai hanya dengan Rp 5000 saja. Dengan begitu bisa diartikan bahwa Emak telah mengiklaskan TV kesayangannya dengan harga Rp 5000, dan tidak menuntut uang sisa yang dijanjikan sebesar Rp 45.000.

Mungkin untuk kita uang sebesar Rp 45.000 tidak ada artinya. Bagi emak, Rp 10.000 saja berarti apalagi Rp 45.000. Saya benar-benar tidak habis pikir dengan kebesaran hati Emak.

Ketika ditanya, "Kok mau sih Mak TV nya cuma diganti dengan sebungkus ikan wader? Harusnya ya maksa dua bungkus aja. Lagian yang rugi di sini siapa?"

Emak menjawab, "Iya, soalnya kasian sama dia, nggak punya uang..."

Saya cuma melongo mendengar jawaban Emak. Sebenarnya di sini yang perlu dikasihani siapa???

Cerita Emak tersebut terasa menyentil kesombongan dan kekikiran yang ada di dalam diri saya. Emak yang tidak punya apa-apa masih bisa ikhlas dan mau memikirkan orang lain. Apa lagi saya yang lebih beruntung dari Emak?

Well, Emak memang bukan siapa-siapa, namun bagi saya Emak orang yang inspiratif. Semangatnya dan kebesaran hatinya membuat saya ingin menjadi lebih baik. Selain itu Emak adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, emak masih punya semangat untuk mendorong anak-anaknya sekolah. Emak melakukan pekerjaan apa pun yang ia bisa, dan pantang meminta-minta pada orang lain.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Emak, namun bila ada sedikit rejeki saya pun berbagi dengan Emak. Terlihat betapa senangnya beliau ketika menerima sedikit bantuan tersebut. Matanya berkaca-kaca sembari mengucapkan terimakasih dan memanjatkan segala kebaikan doa untuk saya. 

Mungkin ini aneh, tapi saya merasa sangat bahagia bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan. Apalagi setelah mendengar cerita Emak, keinginan saya untuk berbagi semakin bertambah. Meski sedikit, saya mewajibkan diri untuk berbagi dengan sesama. Entah itu dengan cara memasukkan sedikit sumbangan ke masjid, membantu teman yang sedang kesulitan, mendonor darah, dan lain sebagainya.

Jadi Hero Zaman Now dengan Berbagi

Masih ada 27 juta orang seperti Emak yang membutuhkan bantuan kita. Jadi, untuk kita yang diberi kecukupan atau bahkan kelebihan harta, sudah seharusnya membagi kebahagiaan tersebut kepada orang yang membutuhkan. Itulah sebenar-benarnya Hero Zaman Now.

Saat ini fasilitas untuk berbagi sudah lebih mudah. Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berbagi, semakin banyak pula jalan untuk menyalurkan kebaikan tersebut. Permasalahannya adalah, kita harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan bantuan dalam bentuk donasi uang. Tak dipungkiri, kejahatan di dunia cyber semakin terbuka lebar di zaman serba internet seperti sekarang. Pastikan lembaga tempat anda menyalurkan donasi adalah lembaga yang terpercaya. 

Ada satu lembaga yang saya kenali dan InsyaAllah dijamin terpercaya, mungkin teman-teman juga sudah sering mendengarnya. Nama lembaga ini adalah Dompet Dhuafa. Yayasan yang didirikan pada tahun 1994 ini dikukuhkan oleh pemerintah menjadi Badan Amil Zakat Nasional pada tanggal 10 Oktober 2001. 

Tahun 2017 ini Dompet Dhuafa mengajak kita untuk peduli kaum yang membutuhkan dengan mengkampanyekan #bulankemanusiaan. Ada tiga program yang akan dilaksanakan Bulan Kemanusiaan yaitu Gerakan Masjid Berdaya, Program Bedah Masjid Pedalaman dan Program Benah Kelas Sekolah Marjinal. 

Hal yang mendasari program-program ini adalah kenyataan yang ada di  Indonesia bahwa masih terdapat sebanyak 152 ribu sekolah yang rusak total dan berat. Masjid-masjid di pedalaman juga membutuhkan bantuan renovasi, karena kondisinya yang memprihatinkan. Padahal masjid digunakan warga tidak hanya untuk ibadah, tapi juga kegiatan masyarakat lainnya.

Bulan Kemanusiaan dikampanyekan mulai bulan Oktober 2017 dan akan berakhir di bulan Desember 2017. Akhir bulan dipilih sebagai Bulan Kemanusiaan untuk mengantisipasi permasalahan kemanusiaan dan bencana alam yang biasanya banyak terjadi di akhir tahun.

Nah, kita juga bisa nih ikut berkontribusi dalam kampanye ini. Jadilah Hero Zaman Now dengan mendonasikan sebagian harta kita lewat Dompet Dhuafa, atau bisa juga dengan menjadi relawan untuk mengumpulkan dana renovasi masjid dan sekolah. Selain itu, kita juga bisa melakukan hal-hal kreatif untuk menggalang dana dengan mengkampanyekan Bulan Kemanusiaan ini.

Well, Semoga cerita saya bermanfaat ya... Selamat Berbagi!

31 komentar:

  1. Hai.. mbaa.. kamu di Malang ya.
    Emak baiknya. Kisah2 seperti ini nyentil ya. Moga email sehat2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat saya nyentil, masih aja kurang bersyukur disih keadaan yang lebih beruntung :)... amiinyarobalalamiin, terimakasih mb ucig :D

      Hapus
  2. Senang sekali membaca tulisan ini. Semoga Emak selalu sehat ya mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinyarobalalamiin... terimakasi Mas Agung :D

      Hapus
  3. Berbagi memang membuat bahagia ��

    BalasHapus
  4. Sungguh tulisan yang sangat 'menyentil'
    Kadang bahkan sering saya lupa bersyukur, mengeluhkan rezeki yang Tuhan Berikan. Sampe nggak sadar kalau ternyata banyak loh orang yang lebih kekurangan dari saya.
    btw, thx for sharing ya Mbak :) salam untuk emak..semoga segera dapat ganti TV yang lebih baik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mb, saya juga sering ga bersyukur :( .... sama2 mb Dita, Alhamdulillah Emak suda dapet tv yang lebih baik :)

      Hapus
  5. Yang saya salut dari beliau adalah dorongan kepada anak-anaknya untuk terus sekolah. Dan meski dengan kondisi yang serba pas-pasan tapi tetap pantang untuk dikasihani. Betul-betul pahlawan, berdoa agar beliau diberi kesehatan selalu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinyarobalalamiin... terimakasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  6. Masya Allah... Keren ceritanya.. terharu 😢

    BalasHapus
  7. Keren nih tulisannya, mengingatkan kita yg paling kaya adalah orang yang paling ikhlas berbagi. Paling keren lagi, ujung2nya dibawa secara pelan dan halus untuk berbagi melalui dompet Dhuafa. Keren! Terima kasih atas remindernya dan goodluck ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasiih... semoga kita selalu diingatkan dalam kebaikan. :D

      Hapus
  8. menarik dan mencerahkan banget Mbak
    terima kasih dan salam kenal

    BalasHapus
  9. bagus banget ceritanya,
    tidak ada orang yang menjadi miskin karena memberi, maka memberilah dan berbagilah bagi sesama

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas Fajar :). Setuju banget... malah rejeki kita nambah ya, InsyaAllah :)

      Hapus
  10. emak benar2 hero zaman now, saluut...

    BalasHapus
  11. emak benar2 hero zaman now, saluut...

    BalasHapus
  12. Wah, saya juga ikutan ni. mampir juga ya http://johanirvani.blogspot.co.id/2017/12/Pahlawan-di-negeri-yang-damai.html

    BalasHapus
  13. Emak ini menginspirasi sekali... Jd malu saya

    BalasHapus
  14. emak hebat nih. banyak emak emak ya rugi banget kalo harusnya bakal dapat 50.000 kok jadi 5.000. pasti enggak rela

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau emak-emak mah biasanya 500 rupiah aja dikejar.. hihi

      Hapus
  15. kisah haru di balik foto di atas :(

    BalasHapus
  16. Salut dengan kesederhanaan dan gaya hidup bersahaja emak ini ....

    BalasHapus