Dilema Ambeien Saat Hamil, Melahirkan Normal atau Caesar?

17.39 Anis lotus 0 Comments


Adakah di antara teman- teman yang menderita ambeien? Kalau ada, kita tos dulu dong...

Untuk laki-laki mungkin ambeien nggak begitu bermasalah ya, meski ya namanya ambeien itu selalu bermasalah. Seharusnya BAB menjadi moment yang melegakan, ini malah menjadi hal yang  menakutkan. Kalau tonjolannya (hemoroid) sudah gede, duduk jadi nggak nyaman, bahkan tidur dan jalan pun bisa jadi nggak nyaman.


Untuk perempuan, ambeien bisa menjadi momok yang menakutkan terutama saat mereka hamil. Gara-gara ambeien, cita-cita melahirkan normal bisa kandas. Seperti yang saya alami.

Saya memang memiliki ambeien sejak remaja. Ambeien saya pertama kali muncul dan parah- parahnya itu waktu SMP. Waktu itu saya kena ambeien karena terlalu lelah dengan banyaknya kegiatan di sekolah dan mungkin karena seharian membawa beban berat (tas isi buku yang overload). Kurang minum air juga mejadi penyebab utama.

Awalnya susah BAB, lalu BAB dengan darah segar. Saking parahnya saat buang air kecil pun darah segar keluar dari jalan keluar feses.

Ambeien atau wasir yang saya alami ini hilang dan timbul sampai kuliah. Setelah itu saya kapok dan selalu menjaga pola makan agar tidak kambuh lagi. Terakhir kali ambeien saya kumat itu saat saya sudah bekerja (karena kurang minum air dan makan makanan berserat). Setelah itu, sampai saya menikah dia tidak muncul lagi.
Saya tidak memikirkan ambeien selama pola makan saya terjaga. Namun saat kehamilan memasuki usia 9 bulan, tanpa tau apa penyebabnya, ambeien saya kambuh.

Kali ini lebih parah. Biasanya ambeien saya muncul kalau saya susah BAB. Itu pun yang menyakitkan hanya pada saat BAB, tidak sampai mengganggu aktifitas sehari-hari. kali ini tanpa ada tanda-tanda susah BAB, tiba2 hemoroid muncul. Semakin lama semakin besar, keras dan sakitnya minta ampun. Duduk sakit, berjalan sakit, tidur pun saya tersiksa.

Saat kontrol ke bidan, saya berharap akan diberi obat atau penanganan agar ambeien ini sembuh sebelum saya kontraksi. Namun, bidan menganggap hal itu biasa dan sama sekali nggak ngecek seberapa parah ambeien yang saya alami. Bidan juga bilang kalau ambeien saat seperti ini memang tidak bisa diobati, hanya bisa dikurangi rasa sakitnya dengan salep.

Saya cari informasi ke berbagai sumber. Menurut pengalaman ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan, ambeien saat hamil tua itu biasa. Hal terebut karena si bayi makin di bawah posisinya dan menekan jalan lahir. Hal itu mengakibatkan muncul hemoroid, apalagi pada wanita yang punya riwayat ambeien. Apalagi saat melahirkan normal prosesnya mengejan dengan kuat. Yang tidak punya ambeien bisa jadi ambeien dan yang punya riwayat ambeien bisa bertambah parah. Tapi dari semua pengalaman yang saya baca, ibu-ibu tersebut bisa lahir normal. Bahkan tante saya yang ambeiennya sudah stadium 4 bisa lahir normal. Dengan catatan berat bayinya di bawah 3,5 Kg.

Informasi berbeda saya terima dari berbagai artikel yang lebih banyak menyebutkan resiko-resiko berbahaya bila bumil dengan ambeien melahirkan normal. Hal ini membuat saya galau. Satu sisi saya ingin sekali melahirkan normal, tapi di sisi lain saya memikirkan secara logika saja, membayangkan bagaimana jadinya ambeien saya setelah mengejan begitu kuat.

Beberapa hari saya yakin bisa menahan sakit sampai kontraksi muncul. Namun lama kelamaan saya sudah tidak tahan lagi. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis obgyn untuk memeriksa ambeien saya. Siapa tau ada pandangan lain untuk pertimbangan saya dan suami.

Pertama-tama dokter memeriksa bayi saya. Untuk ukuran kandungan 40w5d bayi saya termasuk besar. Dokter memeriksa berat bayi saya sampai dua kali, lewat USG dinyatakan 3,5, dan diukur secara manual besarnya 3,7. Kemungkinan kalau bayinya keluar bisa lebih dari itu.

Setelah itu baru dokter melihat ambeien saya, karena saya terlihat sangat kesakitan. Hemoroid saya berada di depan, terjepit di antara jalan lahir dan anus. Besarnya sama dengan jempol saya dan sudah mengeras, jadi sakit sekali bila disentuh.

Sama seperti yang dikatakan Bidan, bahwa bayi saya sudah berada di posisi bawah dan baru akan memasuki jalan lahir. Air ketuban saya juga masih banyak dan jernih. Namun, bayi saya termasuk besar. Berbeda dengan Bidan yang menyuruh saya menunggu sampai terjadinya kontraksi, dokter menyarankan untuk operasi caesar. Kalau bayinya tidak besar dokter menyarankan saya untuk menunggu, karena air ketuban saya masih banyak dan jernih. Namun karena bayi saya besar, resiko terjadi robekan yang panjang juga besar (apalagi anak pertama). Robekan yang panjang takutnya akan kena hemoroidnya dan nanti kalau hemoroid juga ikut sobek akan susah menghentikan pendarahannya, karena hemoroid tidak bisa dijahit.

Setelah berdiskusi bersama keluarga dan suami, akhirnya kami memutuskan untuk operasi caesar saja. Ada perasaan lega di hati saya karena tidak akan berlama-lama lagi merasakan sakitnya ambeien. Namun juga ada perasaan kecewa, karena tidak bisa melahirkan normal. Saya merasa tekad saya kurang kuat untuk melahirkan normal.

Baca Juga: List Barang yang Saya Siapkan untuk Menyambut Kelahiran Si Ulala

Namun akhirnya saya berfikir bahwa keputusan untuk memilih operasi caesar adalah tepat. Seorang perawat cerita pada saya bahwa ada ibu hamil yang dirujuk karena ambeien yang sangat parah dalam proses melahirkan.

Saya pikir, bidan tidak salah menyarankan menunggu karena memang tugasnya memperjuangkan melahirkan normal. Dokter juga memberi saran yang tepat untuk mengurangi resiko pendarahan. Dan saya memilih pilihan yang tepat untuk menghemat waktu dan biaya yang kalau tetap melahirkan normal pada akhirnya juga dirujuk dan melahirkan lewat operasi caesar.

Buat kamu yang lagi hamil dan punya ambeien, pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya adalah, nggak usah takut melahirkan normal kalau berat bayi tidak terlalu besar. Ambeien setelah melahirkan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bila bayinya besar seperti saya, mungkin bisa dipertimbangkan untuk lahir dengan operasi caesar. Mau lahir normal atau caesar sama aja sakit dan perjuangannya.

Well, semoga tulisan saya ini bermanfaat, dan semoga lancar ya bunda yang sedang menunggu persalinan. Mohon koreksi kalau ada peenyataan saya yang salah. Semangat :)


0 komentar: