Yuk Perbaiki Keturunan! Cegah Stunting untuk Indonesia Sehat

17.06 Anis Lotus 5 Comments

www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Berapa tinggi Ayah dan Bunda saat ini? Apakah sudah mencapai tinggi optimal? Kalau saya, jujur saja tidak mencapai tinggi yang optimal. Tinggi saya saat ini adalah standar untuk tinggi anak usia 13 tahun. Artinya pertumbuhan saya lambat. Apakah saya mengalami stunting saat masa kanak-kanak? May be...

Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak, yaitu tinggi badan kurang dari standar tinggi badan berdasarkan umur yang ditetapkan WHO (minus 2 dari standar deviasi) akibat kekurangan gizi kronis yang berkepanjangan. Kekurangan gizi ini sangat rentan terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan. Stunting bersifat irreversible atau tidak dapat disembuhkan/diperbaiki. Dampak stunting cukup mengkhawatirkan, penelitian menunjukkan stunting bisa menimbulkan dampak negatif jangka panjang seperti penurunan kognitif, performa dalam bekerja dan penurunan imunitas tubuh.

Penelitian di beberapa negara seperti Brazil, Guatemala, Filipina, India dan Afrika Selatan, menunjukkan bahwa anak yang mengalami stunting di usia 2 tahun lebih banyak tidak meneruskan pendidikan dan berkemungkinan besar hidup miskin saat dewasa. Selain itu, anak yang stunting lebih rentan terkena penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes, hipertensi, dan lain sebagainya.

Indonesia termasuk negara dengan penyumbang angka stunting terbesar di dunia, yaitu urutan  ke 4 terbesar. Ada sebesar 37 persen atau kurang lebih 9 juta anak Indonesia mengalami stunting. Ironis ya, mengingat sumber daya alam kita yang sangat kaya, tapi ternyata sumber daya manusianya masih kekurangan nutrisi hingga stunting.
www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Lebih ironis lagi jika 20-30 tahun lagi anak Indonesia masih banyak yang stunting, padahal itu adalah masa dimana Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu keadaan dimana usia produktif lebih banyak daripada usia non-produktif. Bisa dibayangkan jika pada kesempatan emas ini Sumber Daya Manusia Indonesia ternyata rendah dikarenakan stunting. Kita tidak akan mampu menghadapi persaingan global.

Stunting memang tidak dapat diobati, tapi bisa dicegah! Inilah pentingnya peran ibu di rumah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. Seorang ibu atau calon ibu harus memperhatikan asupan nutrisi dirinya dan anak yang dilahirkannya mulai dari awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Masa ini disebut dengan the window of oportunity, atau sering disebut masa emas pertumbuhan. Pada masa ini akan terjadi pertumbuhan yang sangat pesat dan tidak akan terjadi pada kelompok umur lainnya.

Untuk pencegahan stunting, mari kita kembali pada penyebab stunting itu sendiri. Banyak orang tua yang menyalahkan faktor keturunan ketika melihat anak pendek. Padahal faktor genetik hanya menyumbang sebagian kecil daripada faktor lainnya. Pemegang peranan penting dalam penyebab stunting adalah asupan zat gizi, baik itu makronutient maupun mikronutrient.

Sebelum kehamilan

www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Upaya mencegah stunting dimulai sejak seorang wanita merencanakan kehamilan. Wanita yang berencana hamil perlu diperhatikan kebutuhan gizinya. Berat badan diusahakan sudah harus ideal dan paling tidak 3 bulan sebelum kehamilan sudah mengkonsumsi zat mikronutrient asam folat dan zat besi.

Saat hamil

www.metahanindita.com

Ibu hamil perlu asupan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan juga perkembangan janinnya. Akhir-akhir ini sedang populer ibu hamil diet karbo. Kalau misalkan dietnya, mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain seperti beras merah, kacang-kacangan, ubi dan lain sebagainya sih nggak masalah. Yang menjadi masalah adalah bila ibu hamil mengurangi asupan karbohidrat, padahal dampaknya akan sangat fatal.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Jurnal Birth Defects Reasearch menemukan bahwa ibu hamil yang kekurangan karbohidrat, bayinya akan beresiko tinggi terkena Neural Tube Defect (NTD) atau cacat berupa neural tube (tabung saraf) yang tidak menutup dengan sempurna sebesar 30%. Selain itu, diet karbo juga berpengaruh terhadap berat badan bayi dan perkembangannya.

ASI Ekslusif 6 bulan

Kalau masalah ini mungkin momy jaman now tau ya, karena di sosial media pada rame posting sertifikat kelulusan anaknya ASI Eksklusif 6 bulan sampai ASI lanjutan 2 tahun. Jadi tantangannya bukan lagi pengetahuan ibu yang kurang, malah tekanan dari orang sekitar. Ini berdasarkan permasalahan yang terjadi di sekitar saya saja, banyak ibu-ibu yang ingin memberikan ASI Eksklusif 6 bulan, tapi mendapat tekanan dari orang tua atau mertua untuk memberikan susu formula atau MP ASI dini karena nggak tega melihat cucunya menangis kelaparan. Hal ini terjadi karena orang tua jaman dulu biasa memberikan bayinya makan sejak umur 2 bulan.Meski ada juga yang memiliki alasan lain seperti ibu bekerja, ASI tidak keluar, sehingga harus dibantu dengan susu formula. 

Manfaat ASI tentu sangatlah banyak, terutama imunitas. Tidak ada yang menandingi ASI dalam hal ini. Dari segi kualitas, menurut dr. Tiwi Sp. A dalam seminar parentingnya di Youtube, ASI perah dengan ASI yang diberikan langsung pada bayinya kualitasnya sudah berbeda. Zat kekebalan yang terkandung dalam ASI membantu melawan infeksi yang terjadi di dalam tubuh anak sehingga pertumbuhannya dapat optimal.

Pemberian MPASI yang Tepat, Adekuat, Aman

Dahulu MPASI dianjurkan oleh WHO, AAP, IDAI untuk diberikan setelah umur 4 bulan, setelah tahun 2012 anjuran itu berubah menjadi 6 bulan karena setelah dikaji manfaat ASI lebih maksimal bila diberikan selama 6 bulan. Selain itu, di usia 6 bulan ini saluran cerna bayi sudah siap menerima asupan makanan selain ASI.

Meski demikian, ibu harus memperhatikan kondisi anak. Perhatikan bila pada umur sebelum enam bulan berat badan tidak bertambah. Konsultasikan pada dokter dan cari penyebabnya. Bila memang harus MPASI sebelun 6 bulan, lakukan saja demi tumbuh kembang anak.

Apakah pemberian MPASI 4 bulan tidak diperbolehkan? Mengutip dari tulisan dokter Meta spesialis nutrisi anak, dalam blog pribadinya, saat ini ESPGHAN (European Society of Pediatric  and Nutrition) masih merekomendasikan pemberian MPASI setelah umur 17 minggu dan sebelum umur 26 minggu. Artinya tidak ada yang salah dengan pemberian MPASI di umur 4 bulan bila sudah ada tanda-tanda kesiapan makan pada anak.

Jadi, perlu diluruskan untuk ibu-ibu jamam now yang mendapat informasi dari sosial media, bahwa MPASI dini itu bukan pada umur 4 bulan sampai sebelum 6 bulan, tapi pada umur di bawah 4 bulan. Jadi jangan katakan anak-anak Eropa yang diberi makan umur 4 bulan oleh ibunya adalah MPASI dini, karena mereka mengikuti rekomendasi ESPGHAN.

Meskipun ESPGHAN masih merekomendasikan MPASI umur 17 bulan dan sebelum umur 26 minggu, apabila tidak ada masalah medis yang berarti akan lebih baik jika ibu tetap memberikan ASI selama enam bulan agar manfaat dan perlindungan ASI lebih maksimal.

Mengenai menu MPASI, saat ini banyak yang mendewakan MPASI homemade. Tidak ada yang salah dengan MPASI homemade selama ibu bisa menghitung nilai gizi sesuai kebutuhan si kecil baik itu asupan makronutrient maupun mirkonutrient. Pada usia 6-12 bulan, pertumbuhan anak sangatlah cepat sehingga membutuhkan zat gizi yang cukup tinggi terutama zat besi. Kebutuhan zat besi pada anak usia 6-12 bulan adalah 11mg per hari. Apa yang terjadi bila anak di bawah umur 2 tahun kekurangan zat besi? hal ini akan berdampak buruk pada tingkat kecerdasan, kemampuan motorik dan perilaku anak tersebut.
dokumen pribadi

Jadi untuk ibu yang percaya akan makanan homemade, ibu perlu menghitung kebutuhan zat besinya. Misalkan, 1/4 ons daging sapi cincang mengandung 0,8mg zat besi, tinggal dikalikan saja berapa banyak daging sapi yang harus dikonsumsi si kecil setiap hari. Bila ibu tidak mampu memenuhi kebutuhannya dengan membuat makanan sendiri di rumah, ibu bisa memenuhinya dengan makanan khusus bayi yang sudah difortifikasi seperti bubur instan (rekomendasi WHO). Makanan instan untuk bayi tersedia dengan berbagai merk di Indonesia. Ibu tidak perlu khawatir dengan kandungannya, karena makanan instan untuk bayi tidak mengandung pengawet seperti yang diisukan. Makanan bayi yang telah beredar dan dijual harus memenuhi codex alimentarius, yaitu aturan dari WHO yang melarang penggunaan zat adiktif, bahan pengawet atau bahan berbahaya lainnya.

Metode pemberian MPASI yang derekomendasikan oleh WHO adalah Responsive Feeding. Meski saat ini lagi ngetrend metode Baby Lead Weaning (BLW) atau pengertian gampangnya bayi dibiarkan memegang makanannya sendiri, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat BLW. Metode BLW di kalangan medis pun masih menjadi kontroversi. Jadi sepertinya lebih bijak bila kita mengikuti rekomendasi dari para ahli yang tentunya sudah melalui berbagai macam survei dan penelitian di seluruh dunia.

Responsive  Feeding (RF) adalah menyuapi bayi secara langsung dan membantu anak yang lebih besar makan sendiri. Dalam metode RF, ibu harus peka dengan tanda lapar dan kenyang anak dan tidak memaksakan anak untuk makan, melainkan mendorong anak untuk makan. Ibu perlu kreatif dalam menyajikan makanan jika anak menolak makan, dan usahakan suasana makan menyenangkan terhindar dari gangguan seperti menonton TV atau video. Waktu makan adalah  proses belajar dan interaksi antara ibu dan anak.

Bila disimpulkan, ada 4 hal penting dalam pemberian MPASI, yaitu Tepat, Adekuat dan Aman:

Tepat Waktu : MPASI harus diberikan saat ASI tidak mampu memenuhi kebutuhan zat gizi bayi.
Tepat cara : sesuai dengan tanda lapar dan kenyang, tekstur, banyak dan frekuensi dan cara pemberiannya.
Adekuat : mampu mencukupi kebutuhan zat gizi bayi
Aman : proses pernyiapan sampai pemberian makanan dilakukan dengan higienis


Rajin ke Posyandu

www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Sangat penting bagi ibu memantau tumbuh kembang si kecil. Mulai dari tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Kegiatan lengkap ini biasanya ada di posyandu. Dengan pengukuran tersebut, ibu dapat mengetahui apakah pertumbuhan anak sudah ideal, atau berlebih atau malah kurang. Dari hasil pengukuran tersebut ibu juga deteksi dini bila ada permasalahan pada anak dan segera dapat diatasi.


Menjaga Kesehatan Lingkungan
www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Penelitian di Bangladesh menyebutkan bahwa anak yang tinggal di tempat yang terdapat air bersih, jamban, dan Fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pertumbuhannya lebih tinggi 50% daripada yang tidak mendapatkan akses tersebut.

Mengapa kesehatan lingkungan berperan penting dalam mencegah stunting? Dengan menjaga kesehatan lingkungan, maka kita akan mencegah terjadinya infeksi pada anak. Infeksi dapat dapat mengganggu proses penyerapan zat gizi dalam usus serta menghabiskan energi untuk melawan infeksi. Itulah mengapa infeksi dapat menggangu pertumbuhan anak.

Masalah kesehatan lingkungan di Indonesia masih menghawatirkan. Hasil survey menemukan bahwa sebesar 24% masyarakat masih Buang Air Besar di tempat terbuka dan sebesar 14% masyarakat tidak dapat mengakses air bersih. Maka sebesar itu pula lah resiko terkena penyakit pada anak yang tinggal di tempat yang kurang tingkat kesehatan lingkungan.

Itulah pentingnya kesehatan lingkungan untuk pertumbuhan anak. Mari kita mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil saja yaitu cuci tangan pakai sabun dengan cara yang  benar.

Jadi, sudah siapkah kita memperbaiki keturunan? Harusnya kita bertanya dan mencari tau dari sejarah orang Jepang, mereka dulu kecil-kecil kenapa sekarang tinggi-tinggi? Itu karena mereka memperhatikan betul pertumbuhan generasi mereka. Kita pun bisa seperti jepang dengan mencegah stunting. Yuk maksimalkan pertumbuhan anak kita, sayang banget kalau masa emas ini terlewatkan. Karena kalau sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi.

Nah, ini sekedar informasi untuk orang yang sering menyalahkan genetik saat tubuh anaknya pendek. Dalam dunia medis ada yang namanya Tinggi Potensial Genetik (TPG), yaitu perkiraan tinggi anak saat dewasa diukur dari tinggi badan orang tuanya. Begini cara menghitung tinggi maksimal yang bisa dicapai anak-anak kita:

TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) - 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm

Misalnya, tinggi saya 150, tinggi suami saya 167, anak saya perempuan. Jadi bila dihitung:

TPG Aisyah: ((167-13)+150) / 2 ± 8,5 = 144- 160

Jadi tinggi badan Aisyah bisa sampai 160cm lho, lebih tinggi dari saya ibunya. Bayangkan nanti kalau Aisyah menikah dengan orang yang lebih tinggi dan pertumbuhan anaknya dioptimalkan. Maka generasi kita akan semakin tinggi and good bye stunting!

Yuk perbaiki keturunan kita, cegah stunting sejak dini demi mewujudkan Indonesia Sehat!

REFERENSI

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
http://www.metahanindita.com
http://depkes.go.id
https://halobunda.com/
https://www.klinikdrtiwi.com

5 komentar:

  1. para ibu hrs pandai membuat makanan yang kaya akan gizi bukan asal kenyang saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba, harus bisa memenuhi kebutuhan si kecil. Yang susah dari makanan homemade itu mikronutrientnya, makanya WHO menyarankan untuk memneri makanan yg sudah difortifikasi atau makanan instan (WHO beneran lho ini bukan abal. Hehe)

      Hapus
  2. saya kira awalnya penyebab anak pertumbuhannya tidak optimal gegara keturunan alias bawaan gen. ternyata gizi bisa menjadi salah satunya ya.

    berarti ada benarnya juga ya susu untuk pertumbuhan tinggi anak itu mbak, secara gizinya membantu untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan sang anak.

    saya bersyukur memiliki tinggi yang cukup 172 cm, saya harap keturunan saya selanjutnya bisa nyampe 180 cm,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, gizi itu penting banget. Kalau susu selaim ASI di atas satu tahun memang disarankan untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnuya.

      Amiiin, semoga generasi berikutnya tambah lama tambah baiik yaa 😁

      Hapus
  3. semoga generasi2 berikutnya bisa lebih tinggi2 lagi.. saya termasuk yang sedih, bapak saya lebih tinggi dari saya huwaaaa

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus