Menasihati atau Mendakwa? #sesicurhat

23.33 Anis lotus 0 Comments

https://pixabay.com

Pernahkah kamu merasa tersinggung saat dinasihati oleh orang lain? Saya pernah. Entah pada saat itu cara orang menasihati salah, atau hati saya yang sedang keras. Yang jelas saat itu saya marah, tapi lebih lucu lagi adalah melihat reaksi orang yang menasihati saya ketika saya marah. Dia ikutan marah dan layaknya anak milenial jaman itu dia membuat status yang mengibaratkan dia seorang penolong dan saya adalah seekor semut yang menggigit ketika ingin ditolong.

Kalau diingat lagi, kok rasanya lucu. Bagaimana reaksi kamu jika kamu ada diposisi si penasihat? Apakah itu bisa dikatakan sebuah ketulusan mengingatkan sesama teman ataukah hanya nafsu merasa menjadi lebih baik dari orang lain?

Oke, sebenarnya saya sudah melupakan kejadian tersebut. Namun ada suatu kejadian lagi yang membuat saya benar-benar ini mengingatkan orang ini dengan sebuah pelajaran yang akan selalu diingat dalam hidupnya dan tidak akan pernah melakukan hal yang sama kepada orang lain. Meski konsekuensinya dia akan membenci saya.

Kesalahan yang saya rasa sangat fatal dari orang ini adalah, dia suka menyepelekan janji. Maka ketika dia melakukannya lagi dan lagi, saya memutuskan untuk memberikan konsekuensi terhadapnya. Konsekuensi tegas tanpa kompromi. Seperti dugaan saya, dia marah. Tak apa marah, memang itu sudah saya prediksi, tapi selain marah, tolong juga intropeksi diri dan akui kesalahan. 
https://pixabay.com

Oke, beralih ke cerita lain. Ini masih tentang menasihati atau mengingatkan seorang teman. Ketika kuliah, saya satu kost dengan teman-teman kampus yang rata-rata tidak melaksanakan sholat lima waktu meski dia Islam. Selain itu juga mereka suka copot hijab semaunya, cuma ke kampus saja pakai hijabnya. Saya termasuk orang yang tidak pernah melewatkan sholat lima waktu dan konsisten menggunakan hijab. Lalu apakah saya serta merta mengingatkan mereka tentang sholat lima waktu dan hijab?

Ya, saya mengingatkan mereka. Tapi tidak dengan cara verbal, seperti ceramah kalau tidak sholat nanti akan masuk neraka, atau menggunakan hijab adalah suatu kewajiban bagi muslimah dan lain sebagainya. Mengapa? Karena cara tersebut tidaklah tepat, yang ada mereka malah kabur dan membenci saya.

Pertama, kenali mereka yang ingin kita rangkul. Pikirkan baik-baik strategi yang tepat agar mereka tidak merasa direndahkan atau menganggap kita orang yang sok suci. Contohnya, saya tidak pernah meminta mereka untuk sholat, tapi ketika kita sedang kumpul dan waktu sholat datang, saya langsung pamit untuk sholat. "Eh, aku sholat dulu ya... " terus mereka biasanya menjawab, "Titip doa ya...". Saya cuma tersenyum dan bilang, iya aku doain. Mengapa saya tidak mengajak mereka untuk ikut sholat? Karena saya yakin, mereka tau kalau sholat itu adalah kewajiban. Mereka tau tentang dosa, tapi mereka tidak ada keinginan atau bahkan tidak ada hidayah dari Allah. Maka yang bisa saya lakukan hanyalah mencontohkan.

https://pixabay.com
Begitu pula masalah hijab, saya pun mencontohkan yang sama. Saya tidak pernah keluar rumah tanpa hijab. Tak pernah saya biarkan teman laki-laki melihat aurat saya. Hingga pada suatu hari, salah satu teman saya berkata, "Aku ingin deh kaya kamu, yang konsisten pakai jilbab kemana pun pergi". Alhamdulillah, di sini lah saya memasukkan pesan-pesan dan nasihat, karena saya melihat ada keterbukaan dalam dirinya untuk menerima nasihat.

Pernah lagi suatu ketika, teman saya yang lain berkata "Aku suka kumpul kamu, nggak sok suci nyuruh-nyuruh sholat. Nggak kaya si itu." Saya pun hanya tersenyum, dan mulai memberikan pesan-pesan seperlunya. Di lain kesempatan, saat dia terpuruk dan membutuhkan nasihat, saya ada dan menasihatinya untuk menghadap Allah lebih rajin. Ajaibnya dia melaksanakan dengan sukarela.

Cerita lain lagi, kali ini ceritanya masih hangat dan baru saja terjadi. Saya merekrut seorang karyawan untuk sebuah bisnis yang saya jalani. Dia adalah seorang wanita hampir kepala empat dan suka berpakaian seksi. Ketika pertama kali bertemu, saya sama sekali tidak menegur mengenai cara berpakaiannya, namun entah mengapa, lambat laun dia mengganti bajunya dengan yang lebih sopan. Suatu hari dia bercerita, kalau dia baru saja belanja ke pasar untuk mencari kerudung panjang dan gamis. Katanya "Saya suka lihat sampean mbak, ternyata bagus pakai gamis dan kerudung panjang begitu."

So, untuk menasihati kita perlu melihat situasi dan kondisi orang yang ingin kita rangkul. Bukannya membuat dia merasa menjadi terdakwa bersalah, menjadi merasa orang yang buruk dan yang menasihati seakan lebih baik. Dalam nasihat dan menasihati pun kita perlu strategi dan pemikiran agar tidak menyakiti orang lain.

Dalam kasus saya sebelumnya (saat saya marah dinasihati), bila saya berada di posisi si penasihat, saya tidak akan langsung menasihati dengan cara gamblang atau bahkan dengan cara sindiran, itu lebih menyakitkan. Kalau memang ingin mengingatkan teman kita yang awalnya jilbab lebar sekarang menjadi hijaber gaul, saya akan mulai dengan meminta pendapatnya tentang jilbab yang ingin saya beli. Itu adalah hal biasa yang seorang teman lakukan kan? Mengajaknya ngobrol tentang orang-orang yang dia kagumi, orang-orang yang berjilbab lebar. Ajak dia kembali mengagumi gaya berhijab semacam itu, jangan langsung menyentuh tentang perubahannya yang seakan-akan dia yang sekarang lebih buruk dari dia yang dulu. Setelah itu serahkan pada yang Maha Kuasa. Jika kamu benar-benar mengenal temanmu, kamu akan tau bahwa dia pun mengerti jilbab mana yang harusnya dia pakai.

Saya pernah mengalami hal seperti ini. Sahabat saya yang dulunya berjilbab lebar dan sama sekali tidak mau disentuh laki-laki tiba-tiba memiliki pacar. Kaget pastinya! Tapi apakah saya langsung menegurnya dan memberikan ceramah tentang dosa berkhalwat dengan lawan jenis? Tidak!
https://pixabay.com

Saya cuma menanyakan, "Kamu pacaran?" Dia langsung berkata, "Saya tau saya salah, tapi saya sudah kadung kecebur jadi ya sekalian saja." Lalu apakah saya terus mengejarnya dengan ceramah-ceramah mana yang benar mana yang salah? Tidak sama sekali. Dia sudah tau tentang hal itu. Yang saya lakukan sebagai sahabat hanyalah mendampinginya, memberikan nasihat hanya bila dia perlu, dan mendoakannya.

Cerita saya di atas adalah berdasarkan pengalaman, saya sama sekali tidak menganggap diri saya paling benar. Saya pun mengakui telah melakukan kesalahan dalam mengingatkan seorang teman, dengan memberinya konsekuensi atas kebiasaannya yang suka menyepelekan janji. Semua kembali kepada Allah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya pun teman saya tersebut. Semoga suatu saat bila bertemu kembali secara nyata, kita hanya mengenang hal-hal baik tentang pertemanan kita selama ini.


0 komentar: